Komunisme?

Kenapa gagasan itu masih ditakuti? Mungkinkah gagasan ini masih menyimpan horor? Atau, mungkinkah konstruksi tentang gagasan ini adalah sesuatu yang sesungguhnya problematis sejak awal kelahirannya? Apa yang terjadi belakangan ini – tentang kisah antipati dan paranoia terhadap gagasan ini – sebenarnya sama sekali tidak menggambarkan apapun tentang substansinya. Buktinya, orang tidak lagi menghiraukan diskursus tentang prinsip-prinsip yang menjadi roh dari gagasan ini. Orang tidak menghiraukan genesisnya, pun aktualitasnya di zaman yang dikuasai perdagangan bebas, di mana bangsa-bangsa yang pernah sekali menyanjungnya kini membuka pintunya lebar-lebar bagi kedatangan tamu yang bernama ‘kapital’.

Kalau demikian, apa sesungguhnya yang terjadi? Tak pelak, yang terjadi sesungguhnya adalah penggunaan sebuah gagasan untuk menutup-nutupi aib di masa lalu, yang tak kunjung reda dan raib, pun setelah sekian banyaknya pergantian takhta yang terjadi. Saat orang takut akan revelasi terhadap masa lalu yang kelam, yang dipenuhi banjir darah dan genangan derita, orang memproyeksikan semua musibah sejarah pada ideologi tertentu. Ideologi, gagasan, ini dijadikan sebagai akar dan musabab dari segala yang terjadi di masa itu. Benarlah bila pemikir itu berbicara tentang sacrificial violence yang seringkali niscaya dibutuhkan untuk menjamin soliditas para pelaku kekerasan yang sesungguhnya. ‘Kambing hitam’, scapegoat, dibutuhkan sebagai tumbal untuk menjamin stabilitas dalam komunitas yang rapuh dan selalu dibayangi disintegrasi. Tatkala apa yang dianggap sebagai tumbal hendak dipertanyakan ulang, dipetakan kembali dan dijelaskan dengan proposisi-proposisi yang baru, orang merasa tak nyaman dan gerah. Alasannya sederhana: dekonstruksi wacana yang sudah terlanjur ajek akan menimbulkan interpretasi baru terhadap peran orang-orang yang sudah terlanjur dikenal sebagai ‘pemenang’ dan ‘pahlawan’ kontra para papa yang dianggap ‘pengkhianat’, ‘laknat’ dan ‘ateis’.

Kalau begitu, mungkinkah komunisme adalah sebuah ilusi niscaya yang dihiperbolisasi demi mengekalkan status ‘pahlawan’ yang pada dasarnya sangat bermasalah, bahkan korup?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s