Emansipasi

Perjalanan ini menempuh jarak lebih dari 1000 mil. Ini bukan sebuah petualangan tetapi kisah pergulatan menuju kebebasan yang tidak dapat digantikan, pun oleh kenyamanan dan tawaran akan peradaban. Perjalanan ini tepat juga dibaca sebagai bentuk resistensi terhadap kecenderungan, tepatnya pretensi, segelintir orang untuk mendefinisikan kebebasan kepada orang lain.

Molly, Gracie dan Daisy adalah tiga gadis Aborigin yang menjadi tokoh sentral Rabbit-Proof Fence, sebuah dokudrama yang dirilis pada tahun 2002. Diangkat dari kisah nyata, film ini menceritakan sepenggal kisah tiga gadis cilik dari Jigalong, sebuah pemukiman suku Aborigin di Australia Barat, yang melarikan diri dari pemukiman pemerintah kolonial yang ada di kawasan Moore River. Cerita ketiga gadis cilik ini sesungguhnya hanyalah satu dari ribuan cerita para stolen generations suku Aborigin Australia, yang diambil paksa dari tengah-tengah keluarga mereka.

Sebagai bagian dari program asimilasi, pencaplokan paksa ini bekerja dengan asumsi tunggal: superioritas kaum kulit putih. Suku asli mesti diadabkan, diabsorpsi ke dalam kebudayaan yang dianggap lebih superior, agar mereka tidak lagi hidup dalam budaya yang dianggap neolitikum, gelap dan terbelakang.

Namun, seperti cerita di banyak belahan dunia lainnya, superioritas dan peradaban adalah konstruksi sosial yang dipaksakan, yang seringkali lahir dari konvensi para pemenang atau penemu (penemu benua Amerika? penemu benua Australia?) Sebagai konstruksi sosial, konsep-konsep ini tidak lahir dari keadaan vakum, tetapi justru lahir dari beragam kepentingan dan, tak lupa, juga kejahatan yang potensial dalam diri manusia.

Melawan apa yang dianggap konvensional, ketiga gadis cilik memutuskan untuk lari. Melawan orde peradaban, mereka cenderung memilih rumah, sekalipun perjalanan pulang ke situ adalah sebuah pergulatan yang penuh mara. Kembara pulang itu benar-benar dimotivasi oleh hal ini: rumah. Di sini, rumah tidak melulu dipahami dalam kategori geografis tetapi lebih dipahami sebagai ke-diam-an, tempat orang bisa merasa benar-benar diam, tenteram, dan karena itu mengalami apa artinya sungguh-sungguh bebas. Tak pelak, bagi suku aborigin, tanah, di mana rumah itu berada, memiliki arti spiritual yang lebih dari sekadar topografi fisik.

Secara simbolik, kebijakan asimilasi yang dilakukan kaum kolonial adalah upaya meruntuhkan kediaman itu. Kediaman itu dianggap gelap, pagan/kafir, dan karena itu mesti dicerahkan dengan spiritualitas asing yang oksidental dan kristiani. Di sini, asimilasi yang kelihatan mulia itu dilakukan melalui usaha domestikasi, penjinakan, yang diupayakan melalui produk kultural yang dianggap mulia: pendidikan. Sekalipun potensial melahirkan pemberontakan dan pembebasan, pendidikan itu ternyata berpeluang menjinakkan kesadaran dan melestarikan perbudakan.

Sikap tolak tunduk ketiga gadis kecil ini dengan demikian bisa ditafsir sebagai emansipasi, dalam arti yang sesungguhnya: gerakan ‘keluar’ (ex-) dari kepemilikan/perbudakan (mancipium)’ , ‘keluar dari pemilik/pembeli [budak] (manceps)’. Kepemilikan atau perbudakan itu, sebagaimana yang ditampilkan di film, bisa berwajah sangat ramah dan familiar. Dan, efektivitas perbudakan justru terletak pada kesanggupan untuk membuat dirinya terlihat bersahabat, persuasif dan karena itu merayu subyeknya untuk mengupayakan adaptabilitas dan penerimaan pasrah. Dalam situasi ini, usia ketiga gadis kecil ini mungkin saja belum membuat mereka sempat menjangkau abstraksi dan spekulasi tentang makna emansipasi, namun jiwa bebas yang mereka miliki adalah sebuah perlawanan total terhadap tirani mayoritas yang menuntut keseragaman dan kepatuhan.

Lalu, pelajaran untuk kita? Sebelum merayakan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni mendatang, baiklah kita ingat bahwa kita dilahirkan sebagai anak-anak merdeka, di rahim tanah yang merdeka. Bukanlah kebetulan kalau burung garuda itu berada pada pusat gambar Pancasila. Dalam mitologi Hindu, garuda adalah devourer of serpent, musuh abadi ular, yang merupakan lambang segala kejahatan. Dan di negeri tercinta yang merdeka ini, musuh kita akhir-akhir ini adalah segala bentuk kejahatan yang hendak menindas perbedaan dan mengkolonisasi keanekaragaman dengan keseragaman. Ini sesungguhnya kejahatan yang hendak menjajah dan memperbudak jati diri kita sebagai orang-orang merdeka.

Sebagai orang-orang merdeka, janganlah membiarkan diri kita dijajah oleh aneka kejahatan, yang juga mewujudkan dirinya dalam bentuk gagasan tiranik anti kebhinekaan, yang sayangnya turut dikoarkan oleh mereka yang suka mengutip ayat-ayat suci dan menyebut nama orang-orang yang bukan berasal dari tanah ibu pertiwi ini. Kemerdekaan dan kebebasan ini terlalu mulia jika harus digadaikan atau ditukar dengan gagasan seragam tentang Yang Misteri, yang acapkali memecah belah dan membuat kita buas terhadap satu sama lain.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s