Mantan

Menit 87.22. Saat bola tendangan bebas Neymar masuk ke gawang PSG, seisi Camp Nou bergemuruh. 4-1. Barca unggul atas PSG. Namun, skor tersebut belum bisa membalikkan keadaan setelah kekalahan satu minggu sebelumnya di Paris. Malam itu dia tampil sebagai miracle worker. Sempat dikritik karena tidak berhasil mencetak gol pada beberapa pertandingan sebelumnya, dialah pemain yang akhirnya membuat apa yang terlihat musykil menjadi mungkin di Camp Nou malam ituAssist dari sisi kanan lapangan yang ia lakukan pada menit 95 berhasil dikonversi menjadi gol oleh Sergi Roberto. 6-1. Kendati bisa diperdebatkan, malam itu, Barcelona membuat the greatest comeback dalam sejarah sepak bola. Ini adalah sebuah pertandingan historis, sebuah pentas yang oleh Luis Enrique, sang manager, disebut sebagai “film horor”, bukan “drama”.

Namun, ini bukan kisah Neymar atau Luis Enrique. Ini adalah kisah tentang seorang mantan yang pada hari itu berada kurang lebih 874 km jauhnya dari Camp Nou. Di Turin, Dani Alves, pemain yang meninggalkan Camp Nou setelah bermain delapan musim di sana, turut merayakan gol hasil tendangan bebas kompatriotnya itu. Dan, saat Sergi Roberto membuat mukjizat pada menit 95, seperti para fans Barcelona di berbagai belahan dunia lainnya, Alves turut bersorak gembira. “Karena kenyataannya ialah Barcelona tetap ada dalam darahku,” demikian tutur mantan pemain Barcelona yang hengkang ke Juventus pada 2016 lalu.

Kisah Alves adalah kisah seorang mantan. Setelah memenangkan 23 trofi bersama Barca di berbagai turnamen, ia merasa dicampakkan. Ia menuturkan, dewan direksi Barcelona kurang mengapresiasi dirinya. “Apakah aku kurang dihargai oleh dewan direksi sebelum aku meninggalkan klub musim lalu? Ya, tepat sekali. Itu adalah hal yang aku rasakan, dan kalian tidak bisa mengatakan hal lain tentang itu,” demikian tulisnya. “Namun, tidak mungkin setelah bermain selama delapan tahun di sebuah klub dan setelah berhasil mendapatkan segala sesuatu seperti yang kami dapatkan, engkau bisa begitu saja melupakan klub tersebut dari hatimu untuk selamanya. Para manajer, pemain dan anggota dewan direksi boleh datang dan pergi. Namun, Barca tidak pernah akan pergi.”

Sebelum pertemuan leg pertama melawan klub lamanya, 12 April lalu, dalam wawancaranya dengan fifa.com, Alves melampiaskan kekecewaan yang sama. “Aku harus mengatakan bahwa aku tidak lagi merasa nyaman di Barca. Banyak hal berubah di dalam klub. Dalam perjalanan waktu, aku selalu tampak sebagai orang yang berada di zona pemecatan. ‘Dani adalah orang yang harus hengkang,’ demikian ujar mereka. Aku lelah dengan itu. Aku pun memutuskan untuk memilih arah baru dan menemukan kebahagiaan di tempat lain.”

Memang, entah mengapa, kebaikan itu mudah dilupakan. Apalagi bila kebaikan itu ditunjukkan oleh mereka yang dikenal tidak lumrah, yang tidak ortodoks atau konvensional. Dalam banyak pengalaman, ortodoksi adalah pakem serta keyakinan yang mesti dijaga. Bila ia dilanggar, orang mudah berang dan kalap. Namun, bila pelanggaran ortodoksi itu mendatangkan kebaikan tertentu, orang bisa dengan mudah mengecilkan arti kebaikan tersebut bahkan memilih untuk menilai hal itu sebagai kebetulan historis belaka. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau si pelanggar, pun setelah banyak kebaikan yang ia bawa, bisa selalu dianggap sebagai liabilitas, risiko, yang mesti disingkirkan.

Sekalipun memiliki kemampuan di atas rata-rata, Dani Alves berada dalam kategori terakhir di atas. ‘Melawan ortodoksi’ mungkin salah satu hal yang mengkarakterisasi karir profesionalnya. Pada permulaan musim, setelah pindah dari Bahia ke Sevilla, sang manajer mengingatkannya: “Di Sevilla, para pemain belakang kami tidak berlari melewati garis tengah. Tidak pernah.” Instruksi tersebut membekas. “Aku bermain di beberapa pertandingan, mengolah bola di lapangan dan terus menatap garis tersebut. Hanya mampu menatapnya, bak seekor anjing yang takut untuk melintasi satu pagar tak kelihatan di halaman.”

“Lalu, dalam satu pertandingan, karena alasan tertentu, aku terus berlari melintasi garis itu. Aku harus menjadi diriku sendiri.” Pada akhirnya, bagi Alves, menjadi diri sendiri lebih penting daripada sepenggal intruksi. Garis tengah itu ia lintasi. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. “Agora. Dan aku terus maju. Menyerang, menyerang dan menyerang,” tutur Alves. Baginya, setiap permainan adalah saat menjadi diri sendiri. Dengan menjadi diri sendiri dia menjadi eksepsional. “Jikalau engkau melakukan hal yang sama, yang juga dilakukan orang-orang lainnya, engkau akhirnya hanya sama seperti mereka: aku tidak mau hanya menjadi seorang pemain.

Bagi Alves, menjadi diri sendiri berarti menjadi unik. Dan saat menjadi diri sendiri itu adalah agora, sekarang, yang tidak bisa ditunda-tunda. Karena menjadi diri sendiri itulah, Alves kemudian berlabuh di Camp Nou. “Kemudian, Barcelona menandatangani kontrak dengan diriku. Ketika engkau mengontrak seorang pemain, engkau mengetahui apa kemampuannya. Dan apa pula kelemahannya,” tuturnya.

“Orang yang mampu membuat segala sesuatu bermuara kepada kebahagiaan karena bergantung kepada dirinya sendiri, dan bukan orang lain, adalah dia yang telah memilih rencana terbaik untuk hidup dengan bahagia,” demikian tutur Plato, ribuan tahun lalu. Hal itulah yang Alves hidupi. Dalam satu kesempatan wawancara, wartawan bertanya kepadanya tentang situasi ruang ganti (dressing room) di klub barunya, Juventus. Alves bertutur: “Itu adalah satu dari banyak tantangan yang mesti aku hadapi. Aku mesti merasakan kebahagiaan dalam hidupku. Aku membutuhkan atmosfer itu. Aku adalah seorang yang percaya teguh dengan energi. Aku merasa bahwa apa yang engkau lakukan di lapangan sesungguhnya merefleksikan siapa dirimu di luar lapangan. Itulah masalah yang aku alami. Di Italia, rekan-rekan setimku lebih serius dan kurang ekspresif. Sementara itu, aku adalah kebalikannya!… Tetapi, itulah tantangannya. Dan aku pikir, ada banyak hal yang bisa kuberikan kepada Juventus.”

Alves memilih menjadi dirinya. Karena itu, dia bahagia. Kebahagiaan itulah yang berkorelasi positif dengan kualitas performanya di lapangan. Sempat dibekap cedera setelah pertandingan melawan Genoa, statistik menunjukkan bahwa kualitas pemain berusia 34 tahun ini ternyata belum lekang. Dua assists-nya dalam laga leg pertama semi-final piala Champions ditambah lagi satu assist dan satu gol di pertandingan leg kedua melawan Monaco menjadi pembenaran dari performa yang berlandaskan keyakinan diri tersebut.

Keberhasilan Juve menjuarai Coppa Italia dan Serie A musim ini tidak lepas dari kontribusi pemain dengan gaya anti-konvensional ini. Giorgio Chiellini, bek tengah Juve, mengakui hal terakhir ini. “Kami sedikit sulit bekerja sama pada awalnya. Kami berdua, Dani dan aku. Dia itu seperti ikan yang ditarik keluar dari air. Dia itu seperti satu elemen asing…yang sedikit gila menurut kebudayaan [sepak bola] kami.” Namun, seperti banyak hal lainnya dalam sejarah, kemenangan tidak selalu dijamin dengan kesetiaan pada ‘budaya’, yang ditafsirkan sebagai monolitik dan tak fleksibel. Keberanian untuk mengasimilasi kebaruan, keasingan bahkan kegilaan yang non-ortodoks, seringkali bisa menjadi kunci dalam membuka pintu kemenangan. Prestasi Juve musim ini adalah testimoni yang meyakinkan tentang fakta tersebut.

“Seseorang mesti selalu mempertahankan ikatannya dengan masa lalu, tetapi sekaligus tidak pernah berhenti untuk menarik diri darinya. Supaya tetap dekat dengan masa lalu yang kita butuhkan ialah kecintaan terhadap memori. Supaya tetap dekat dengan masa lalu yang kita butuhkan ialah satu usaha imajinatif yang konstan,” demikian tulis Gaston Bachelard (1884-1962), filsuf dan pujangga Prancis. Bagi Alves, mempertahankan ikatan dengan masa lalu adalah sebuah kemestian. “Tim Barca kami hampir tak terkalahkan. Kami memainkan bola dari memori. Kami sudah tahu apa yang akan kami lakukan. Karenanya, kami tidak perlu banyak berpikir saat bermain. Itulah alasan mengapa Barca selalu ada di dalam hatiku hingga saat ini,” demikian tulis Alves.

Masa lalu telah membentuknya. Karena itu, dia bersyukur. Namun, bagi Alves, masa lalu yang sama, yang juga meninggalkan segelintir kenangan pahit, adalah sekaligus hal yang juga ia lampaui. Mengutip Rick Warren, dia adalah produk masa lalu, namun kenyataan itu tidak membuatnya memilih tetap menjadi tahanan masa lalu. Tidaklah mengherankan, saat membicarakan kemungkinannya hengkang dari Barcelona, dia berkata: “Saat aku pergi, aku akan pergi dan berkata: ‘terima kasih banyak untuk segalanya, sepak bola: terima kasih untuk kesempatan dan terima kasih pula untuk perjalanan luar biasa yang telah kita lewati bersama.”

Lalu, adakah hal baik yang bisa dipetik dari kisah tentang mantan ini bagi diri kita yang juga masih merindukan sang mantan yang sekarang mendekam sebagai tahanan? Banyak hal bisa dikatakan. Namun, menuruti Bachelard, marilah kita mengenang sang mantan dengan usaha imajinatif yang konstan. Imajinasi mungkin tidak membantu dia keluar dari jeruji-jeruji itu. Namun, tak pelak, imajinasi itu dapat mendorong kita melewati garis batas yang ditentukan secara arogan oleh mereka yang mengaku diri sebagai pembela dan pengawal  ortodoksi, yang sayangnya anti-kritik dan korup. Semoga saja imajinasi itu bakal mengilhami beraneka resistensi yang bisa kita lakukan terhadap satu jenis tirani yang terobsesi dengan keseragaman dan fanatisme!

 

Sumber:

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s