Gigi (1)

Stadion Giuseppe Meazza, Milan. 8 Juni 1990. Di hadapan 73.380 penonton, dua negara bertemu di pertandingan pembukaan Piala Dunia. Setelah empat tahun sebelumnya menjuarai Piala Dunia di Mexico, Argentina berhadapan dengan Kamerun, negara Sub-Sahara Afrika yang untuk kedua kalinya menginjakkan kaki di Piala Dunia, setelah debut pada tahun 1982 di Spanyol.

Ini adalah pertandingan antara dua kekuatan yang tidak berimbang. Argentina datang bersama el pibe de oro, si ‘anak emas’ Maradona yang empat tahun sebelumnya memukau dunia dengan aksi solo run selama 11 detik, goal of the century yang  berhasil menyingkirkan Inggris di laga perempat final Piala Dunia 1986.

Kamerun? Bila Argentina memiliki Maradona yang juga membawa Napoli menjadi scudetto musim itu, Kamerun sebaliknya tidak memiliki pemain yang spektakuler. Mereka bahkan harus memanggil pemain berusia 38 tahun yang 3 tahun sebelumnya memutuskan pensiun, Roger Milla. Bila Argentina memiliki Carlos Bilardo, pelatih yang membawa Argentina menjadi juara dunia 1986, Kamerun hanya memiliki Valeri Nepomniachi, pelatih baru yang sebelumnya hanya berpengalaman melatih satu klub di Turkmenistan yang berlaga di divisi tiga liga Rusia!

Sungguh, tak ada banyak hal yang bisa dibanggakan Kamerun. Sebelum pertandingan perdana tersebut, media Inggris bahkan memprediksi bahwa Kamerun akan pulang lebih awal dan sekadar berharap semoga “negara cendala (shitty nation) ini pulang tanpa harus dipermalukan habis-habisan oleh negara-negara yang lebih besar.”

Namun, hasil pertandingan itu bak bola bundar: tidak bersudut dan bisa menggelinding ke mana saja. Malam itu, seluruh isi stadion seolah-olah berpihak pada Kamerun. Maradona sendiri membenarkan hal tersebut: “Seluruh isi stadion bersorak mendukung Kamerun. Bukankah itu menyenangkan?”

Setelah bermain tanpa gol pada babak pertama, tandukan Omam-Biyik pada menit 67 mengubah kedudukan menjadi 1-0. Stadion bergemuruh saat bola masuk ke gawang Argentina yang dijaga Nery Pumpido. Kota Milan bersorak. Bagi Milanisti yang menyaksikan laga historis malam itu, gol Kamerun adalah balas dendam terhadap Maradona yang musim itu merebut juara Serie A bersama Napoli setelah unggul 2 poin atas AC Milan. Kemenangan 1-0 Kamerun atas Argentina malam itu dikenang sebagai miracle of Milan. Tidaklah berlebihan bila dunia mengenang laga itu sebagai ‘mukjizat’: Kamerun menang dengan sisa 9 pemain di lapangan.

Di antara ribuan penonton yang larut dalam eforia malam itu, seorang anak berusia 12 tahun dari Tuscany, Italia Tengah, menemukan idola barunya. Beberapa tahun setelah menyaksikan pertandingan tersebut ia berujar: “Saat mata seluruh dunia tertuju kepada para pemain seperti Diego Maradona dan Gary Lineker, aku terpesona oleh Thomas N’Kono. Semua hal yang dia lakukan untuk Kamerun di Piala Dunia itulah yang menginspirasi aku untuk menjadi seorang penjaga gawang.” Pengakuan ini dilontarkan Gianluigi Buffon, penjaga gawang Juventus dan tim nasional Italia. Baginya, N’Kono, penjaga gawang Kamerun di laga historis malam itu, adalah inspirasi dan pahlawannya.

Namun, pahlawan dan kepahlawanan tidak selalu bermula dari kecemerlangan. Dalam banyak peristiwa, kepahlawanan adalah kisah pergulatan dengan keraguan dan ketidakpastian. N’Kono adalah salah satu contohnya. Dia penjaga gawang yang baik. Namun sebelum kick-off di Milan malam itu, dia tidak menduga bakal diturunkan. Saat itu, kiper utama Kamerun ialah Joseph-Antoine Bell. Dan Bell bukan penjaga gawang biasa. Pada musim itu ia dipilih sebagai pemain Afrika kedua terbaik, pilihan majalah France Football. Karena itu, ia menjadi pilihan pertama Nepomniachi, sang pelatih. Namun, pada malam sebelum pertandingan, ia mengkritik rekan setimnya. Ia mengatakan bahwa mereka “tidak memiliki kans untuk membendung Argentina ataupun tim lainnya” dan “akan segera tersingkir pada babak pertama tanpa membawa pulang kabar baik apapun.”

Nepomniachi pun tidak menurunkan Bell. Sementara itu, Bell sendiri tidak menyukai N’Kono dan lebih memilih Jacques Songo’o, kiper cadangan lainnya. Namun, lima jam sebelum pertandingan, Nepomniachi akhirnya memilih N’Kono.

Bila N’Kono bukan kiper pilihan pertama di timnas Kamerun saat itu, ‘Gigi’ Buffon malahan sama sekali tidak memilih menjaga gawang pada awal karirnya. Dia adalah pemain tengah Perticata, sebuah klub satelit Inter Milan, di kota asalnya, Carrara. Saat masuk ke akademi sepak bola Parma pada usia 13 tahun, ia juga memilih posisi tengah lapangan. Para panutannya adalah para gelandang tengah elegan, seperti Marco Tardelli and Nicola Berti, yang sering menyerang dan mencetak gol. “Setiap anak hampir pasti berpikir tentang memasukkan gol dan bukan mencegah terjadinya gol.” Namun, setelah menonton Kamerun di Piala Dunia tahun itu, dia mulai berpikir untuk menjadi penjaga gawang.

19 November 1995. Lima tahun setelah menyaksikan aksi spektakuler pahlawannya, N’Kono, Gigi memulai debutnya sebagai kiper di Serie A bersama Parma. Pada laga itu, timnya berhadapan dengan kekuatan raksasa Italia, AC Milan. Berhadapan dengan tim yang dipenuhi para penyerang hebat, Gigi tampil impresif. Ia berhasil menghalau serangan bertubi-tubi yang dilancarkan dua striker tajam penerima Ballon d’Or: George Weah dan Roberto Baggio. Penampilan gemilang Gigi di debut itu berhasil menahan imbang AC Milan dengan skor akhir 0- 0.

Debut hari itu memang luar biasa. Namun, kisah ini sesungguhnya hanyalah sehelai benang pada tenunan cerita (textus) yang lebih besar. Jauh sebelum bergabung dengan Parma, Gigi ditawari kesempatan untuk bergabung dengan klub yang lebih besar seperti Bologna dan Milan.  Herannya, dia memilih jalan yang tidak sering dilalui orang lain. “Aku membuat pilihan yang paling aneh, yang paling tidak ortodoks saat itu. Aku memilih Parma, sebuah klub baru yang baru setahun lebih bermain di Serie A.” Parma sebelumnya hanya bermain di Serie B, bahkan di Serie D. Namun, pada tahun 1989 Nevio Scala datang menggantikan Giampieri Vitali sebagai pelatih dan berhasil mengantar Parma untuk pertama kalinya ke Serie A pada tahun 1990.

Bermain di bawah asuhan Scala, Gigi mendapat kesempatan bermain di turnamen pra-musim pada tahun 1994, saat Luca Bucci, kiper utama, menikmati liburan setelah bermain untuk Italia di Piala Dunia. Dia mendapat kesempatan emas. Namun, “Aku sedikit indisipliner dan di atas segalanya, suka membangkang,” ujarnya. Saat mendapat kesempatan tur ke AS dan Kanada, melanggar aturan diet yang ketat, Gigi tidak ragu mengonsumsi es krim. Saat menginap di hotel dekat lapangan golf, dia menghabiskan waktunya berjalan-jalan dengan mobil golf (buggy) dan karenanya dihukum denda senilai empat kali gajinya saat itu.

Sadar akan perilaku Gigi, para pemain Parma lainnya, khususnya kapten Lorenzo Minotti, cemas kalau Scala menjatuhkan pilihan untuk menurunkan Gigi pada laga berat melawan Milan tersebut. Kecemasan Minotti memang beralasan. Pada saat sebelum laga tersebut, Bucci, kiper utama, dibelit cedera setelah pertandingan melawan Halmstads di Piala UEFA. Giovanni Galli, kiper cadangan, telah pindah ke Lucchese. Karena itu, pada pertandingan tersebut, Scala berencana untuk menurunkan Alessandro Nista, sambil tetap mengamati performa Gigi saat latihan. “Lalu, pada tanggal 19 November 1995, ada hal yang berubah. Dia [Scala] mengatakan bahwa aku siap bermain,” ujar Gigi mengenang debut 22 tahun silam tersebut.

Kepercayaan yang diberikan Scala ini tidak serta merta meredam keraguan dan kecurigaan. “Dalam perjalanan menuju stadion, aku memperhatikan bahwa setiap orang yang berada di staf kepelatihan terkejut saat melihat diriku dan sedikit cemas kalau aku akan diturunkan dalam pertandingan tersebut. Karena itu aku menoleh ke arah Alessandro Melli (rekan tim) dan berujar, ‘Aku harap Milan mendapatkan penalti hari ini sehingga aku mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan gawang.”

Namun, keraguan dan kecurigaan orang lain hanyalah opini dari luar. Yang lebih berbahaya ialah keputusan pribadi untuk membiarkan diri dikuasai atmosfer negatif yang diciptakan orang lain. Gigi menolak untuk tunduk pada keraguan dan kecurigaan semacam ini. Dalam perjalanan 10 menit dari hotel menuju Stadion Ennio Tardini, tempat laga berlangsung, Gigi bahkan tidur pulas.  Bayangan tentang lawan sekaliber Zvonimir Boban, George Weah dan Roberto Baggio bahkan tidak membuatnya gentar dan terjaga. Sebaliknya, ia rileks dan siap menghadapi tantangan. Ini satu kekuatan mental yang tidak biasa, yang ditampakkan pemuda belia yang saat itu baru berusia 17 tahun!

“Tindakan yang paling berani ialah kemampuan untuk berpikir untuk dirimu sendiri,” demikian ujar Coco Chanel,  desainer perempuan Prancis. Bagi Gigi, “Seorang penjaga gawang adalah seorang yang berani, tidak takut, karismatik bahkan sedikit tidak dewasa.” Dua pendapat ini sepertinya menemukan konvergensi.

Ketakutan lahir dalam diri orang-orang yang disesaki banyak prasangka tentang dunia. Prasangka-prasangka itu melumpuhkan keterbukaan terhadap apa yang baru, yang berbeda dan jamak. Karena prasangka, hal-hal baru dan berbeda dipandang sebagai nemesis, lawan utama, dari segala hal yang dia punyai. Saat kebaruan dan kejamakan tidak diselebrasi dan dianggap sebagai lawan, ketakutan itu segera menyusup. Ketakutan itu merenggut kepolosan, satu kesanggupan untuk menerima hal-hal lain secara apa adanya. Kepolosan, innocentia, itu sendiri adalah kebajikan yang dimiliki oleh mereka yang memiliki jiwa ‘anak kecil’, jiwa yang ‘tidak dewasa’. Mengapa? Kepolosan berhubungan dengan absensinya rasa bersalah, satu rasa yang seringkali berbanding lurus dengan fiksasi terhadap banyaknya pikiran yang diindoktrinasikan dari luar. Tidak lagi seperti anak kecil, yang memandang dunia dengan mata penuh kekaguman, ‘orang dewasa’ cenderung melihat dunia dengan ‘mata’ orang lain, yang dipandang lebih baik, suci, berkuasa dan berpengaruh.  Tanpa kepolosan, orang tidak lagi berpikir untuk dirinya sendiri, tetapi malahan memperhambakan dirinya pada opini, asumsi atau ortodoksi orang kebanyakan.

Kepolosan macam inilah yang membuat Gigi selalu tampil dengan performa yang luar biasa, pun di usia yang tidak lagi muda, 39 tahun. Kepolosan itulah yang membuat dia memiliki kualitas yang oleh Andrea Pirlo, mantan rekan setimnya di Juventus, dinamakan infectious enthusiasm. Benar, Gigi memiliki antusiasme yang luar biasa besar pada tugas dan tanggung jawabnya menjaga gawang. Antusiasme ini tidak lapuk dimakan usia. Antusiasme ini pulalah yang membuat dia seolah-olah memiliki kemudaan yang abadi. Karenanya, tidaklah berlebihan kalau para pengagumnya menjuluki dia Superman: superhero yang selalu muda.

Namun, sebagai Superman, Gigi sadar bahwa dia adalah juga “Clark Kent”, manusia biasa yang tidak kebal salah. Sadar akan kemanusiaan tersebut, setelah final dramatis melawan Real Madrid itu, dia berujar: “Faktanya ialah kami masih kekurangan sesuatu; sesuatu yang paling kurang bisa membuatmu berada pada level yang sama dengan lawanmu dalam satu laga seperti ini.” Well-said, Gigi!

 

 

 

Sumber:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s