Daud

Pada kisah Daud kita menemukan misteri panggilan yang tak utuh terperikan. Di awal kisah, Daud bukanlah andalan manusia, yang cenderung memilih berdasarkan preferensi terhadap kualifikasi tertentu. Paling kurang, Samuel, sang nabi itu, sama sekali tidak pernah menduga bahwa dari kedelapan putra Isai Daud bakal menjadi pilihan Allah yang kemudian ia urapi.

Bila pilihan manusia pertama-tama berangkat dari penampakan lahiriah, atau “apa yang di depan mata” (1 Sam 16:7), pilihan Allah justru terletak pada “hati”. Karena itu, tidaklah mengherankan bila kesaksian biblis mencatat bahwa Daud adalah satu-satunya tokoh dalam Kitab Suci yang disebut sebagai “seorang yang berkenan di hati Allah” (1 Sam 13:14; Kis 13:22).

Namun, mungkinkah hati itu selalu bisa diandalkan? Mungkinkah hati bisa menjadi fakultas intrinsik yang konstan, tidak berubah dan selalu terarah pada kehendak ilahi? Samuel mungkin tidak sempat memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut pada hari ia bertandang ke Bethlehem. Namun, dalam perjalanan waktu, kita akhirnya toh tahu bahwa kisah Daud adalah juga kisah tentang hati yang rapuh, yang tidak selalu dapat diandalkan.

Dari banyak kisah yang dialami Daud, kisah perselingkuhannya dengan Batsyeba serta konspirasi untuk melenyapkan Uria, suami Batsyeba, adalah testimoni kuat tentang kerapuhan hati itu. Bila pada kisah keterpilihannya, Daud dipilih bukan karena penampakan lahiriahnya, pada kisah kejatuhannya ia justru memilih penampakan lahiriah. “Apa yang di depan mata” justru menentukan determinasinya. Fisikalitas, yang dinegasi pada hari keterpilihannya, justru menjadi variabel dominan pada saat pengambilan keputusan yang ia lakukan dalam kisah ini.

Daud jatuh. Namun, bisakah kisah Daud dan kerapuhan hatinya dipakai sebagai argumen untuk meragukan Allah dan keputusan ilahi yang Ia buat melalui Samuel? Mungkinkah kisah Daud dapat dipakai untuk mendelegitimasi panggilan ilahi dan menjustifikasi sinisme terhadap ‘orang-orang terpanggil’ yang juga sering rapuh dan jatuh?

Masing-masing kita barangkali memilih jawaban yang berbeda. Namun, kisah Daud tidak berakhir pada cul-de-sac, jalan buntu yang pengap dan gelap. Kisah Daud adalah juga kisah penebusan ilahi yang bermula dari metanoia, pertobatan. Bila dalam kisah keterpilihannya, Daud didatangi Samuel, dalam kisah penebusannya Daud didatangi Natan. Natan, sang nabi itu, menegur Daud untuk kejahatan yang telah ia perbuat. Dengan menggunakan alegori si kaya dan si miskin, Natan mengantar Daud pada kesadaran moral tentang kejahatan yang telah ia lakukan.

Kisah penebusan Daud tidak dapat dimengerti secara paripurna bila kita tidak memindai apa persisnya dosa yang ia perbuat. Berkaca pada alegori yang dipakai Natan, kita bisa melihat bahwa kesalahan Daud bukan semata-mata terletak pada kegagalannya mengendalikan energi libidinal yang purba itu.  Toh, Daud adalah arketipe poligami; hidupnya diwarnai kehadiran banyak perempuan yang menjadi istri dan gundiknya. Karena itu, bobot kesalahan Daud pastilah melampaui aktus kopulasi yang banal tersebut.

Memandang alegori yang dipakai Natan, kita melihat bahwa perkara Daud bukan terletak pada nafsu yang tiada terpermanai kepada Batsyeba, melainkan terutama pada kejahatan yang ia lakukan terhadap Uria. Karena itu dalam traktatnya, The Aggravation of Sin, Thomas Goodwin menjelaskan bahwasanya perkara Daud lebih merupakan ‘perkara dengan Uria’ (the matter of Uriah) daripada perkara dengan Batsyeba (the matter of Bathsheba). Di sini, hal yang hendak disoroti terletak lebih pada deliberasi dan determinasi Daud dalam merancang kejahatan terhadap Uria, daripada dosa hawa nafsu yang Daud miliki terhadap Batsyeba. Tentu, kedua perkara ini sama-sama jahat. Namun, aktus menipu diri (self-deceit) , kemunafikan (internal hypocrisy) serta kebisuan yang dibarengi pemaafan terhadap dirilah (self-forgiving silence) yang mendatangkan kemurkaan ilahi.

Saat mendiskusikan perkara yang kedua ini, Goodwin berbicara tentang ‘dosa melawan pengetahuan’ (sin against knowledge). Dosa semacam ini termanifestasi dalam wujud penyalahgunaan pengetahuan moral di mana orang menutup-nutupi dosanya dengan menggunakan pretensi yang masuk akal dan baik. Persis, hal inilah yang dilakukan Daud. Untuk menjustifikasi kematian Uria di medan tempur, ia mengemukakan argumentasi tentang keniscayaan korban dalam perang: “…[S]ebab sudah biasa pedang makan orang ini atau orang itu” (2 Sam 11:25). Di sini, magnitudo kesalahan Daud terletak pada upaya penuh kesadaran dan kemauan yang ia lakukan untuk merasionalisasi serta menjustifikasi sarana yang ia pakai untuk mencapai tujuannya.

Bagi Daud, ‘dosa melawan pengetahuan’ itu adalah sesuatu yang ia sadari sejak awal. Hal itu jelas terlihat pada pengakuan yang ia buat dalam mazmur yang sangat personal itu (Mzm 51): “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku (1-3).”

Pada akhirnya, Daud pun bertobat. Pertobatan yang membawa penebusan itu diawali dengan kesadaran bahwa “hati yang patah dan remuk tidak akan Allah pandang hina (Mzm 51:17)”. Memang, ‘hati yang patah dan remuk’ adalah awal kejatuhan dalam dosa, namun hati yang sama itulah yang senantiasa Allah terima. Barangkali dalam aras ini, penerimaan Allah terhadap hati yang patah itu adalah garansi dari kekudusan pilihan ilahi itu sendiri. Tindakan purifikasi, pentahiran, hati itu bukanlah tindakan manusiawi. Itu adalah semata-mata tindakan belas kasih Allah sendiri. Dan, di sini, kita melihat bahwa tindakan penebusan terhadap ‘orang-orang terpanggil’ adalah inisiatif ilahi Allah sendiri.

Namun, tindakan penebusan itu pada saat yang sama juga menuntut kolaborasi dari pihak manusia. Daud dengan jelas mencontohkan hal itu. Pentahiran yang ia alami hanya dapat terjadi tatkala ia berani mempersembahkan jiwa yang hancur (Mzm 51:17) itu kepada Allah. Di sini, kita melihat bahwa dimensi ilahi keselamatan Allah tidak dapat dilepaspisahkan dari dimensi manusiawi partisipasi manusia dalam keselamatan tersebut.   

Dan, bila kita sekarang ini sedang dilanda ketegaran hati yang menakutkan, marilah kita sama-sama berdoa semoga Allah yang maha rahim itu memberikan kita kerendahan hati untuk membuka diri, mengakui kesalahan dan mengupayakan pembaruan.

Lalu, bila prahara yang mengguncangkan ini sampai-sampai melantakkan optimisme itu, baiklah kita sekalian mengingat bahwa keselamatan itu bukan disediakan manusia, makhluk dengan hati yang senantiasa rapuh dan tegar. Keselamatan yang menjadi aspirasi bersama itu datang hanya dari Allah sendiri. Asal ilahi keselamatan itu hendaknya menjadi alas kokoh dan wadas perkasa bagi harapan dan kegembiraan kita.

Dalam kesadaran itu, bersama Daud marilah kita berseru: “Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela (Mzm 51:12)!”

4 thoughts on “Daud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s